Senin, 29 Desember 2014

Uji Rapid Plasma Reagin (RPR)



MAKALAH KELOMPOK
IMUNOSEROLOGI - III

  Uji RPR ( Rapid Plasma Reagin )
OLEH
KELOMPOK 5
KELAS A

JENI MARYANTI HANGE PEDA
LAODE YASID BASHAR
HARIS
LAODE GAPRIL
ANITA HAIRUNISA
APRIANUS

AKADEMI ANALIS KESHATAN BINA HUSADA

KENDARI
2014




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dan tidak lupa juga kami mengucapkan terimasih banyak kepada Ibu dosen dan teman-teman sekelas yang turut mendukung kami dalam terselesaikannya makalah ini dengan baik. Makalah ini dibuat sebagai salah satu nilai tugas dari mata kuliah Imunoserologi-III.

Selanjutnya demi kesempurnaan dari makalah ini kami mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari Ibu dosen serta teman-teman sekalian. Terimakasih.



Kendari,    Desember 2014
                                                                                   

                                                                                                            Penulis














DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR   ..............................................................................................1
DAFTAR ISI  ..............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN     ......................................................................................3
1.1. Latar Belakang Masalah  ..........................................................................3
1.2. Rumusan Masalah            ..........................................................................3
1.3.Tujuan       ..................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN      ......................................................................................5
2.1. Penyakit sifilis                  ..........................................................................5

2.2. Rapid plasma Reagin                   .............................................................. 8
2.3. Uji RPR   .................................................................................................. 9
BAB III PENUTUP   ..................................................................................................13
            3.1. Kesimpulan          ......................................................................................13
            3.2. Saran        ..................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA                        ......................................................................................14







BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar belakang
Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk yaws (subspesies pertenue), pinta(sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum).
Tanda dan gejala sifilis bervariasi bergantung pada fase mana penyakit tersebut muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara umum ditandai dengan munculnya chancre tunggal (ulserasi keras, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak gatal di kulit), sifilis sekunder ditandai dengan ruam yang menyebar yang seringkali muncul di telapak tangan dan tumit kaki, sifilis laten biasanya tidak memiliki atau hanya menunjukkan sedikit gejala, dan sifilis tersier dengan gejala gumma, neurologis, atau jantung. Namun, penyakit ini telah dikenal sebagai "peniru ulung" karena kemunculannya ditandai dengan gejala yang tidak sama. Diagnosis biasanya dilakukan melalui tes darah; namun, bakteri juga dapat dilihat melalui mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G (yang disuntikkan untuk neurosifilis), ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi berat terhadap penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral atau diminum.
1.2.   Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud penyakit sifilis ?
2. Apa yang di maksud dengan RPR ?
3. Bagaimana cara pemeriksaan ?

1.3.  Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud penyakit sifilis ?
2. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan RPR ?
3. Untuk mengetahui bagaimana cara pemeriksaan ?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Penyakit Sifilis
Immunoassay untuk sifilis memegang peranan yang penting dalam diagnosis laboratories dari penyakit sifilis ,sebab perjalanan penyakit lama dan sampai dewasa ini T. pallidum belum berhasil untuk dibenihkan pada suatu media perbenihan . sedangkan pemeriksaan secara langsung (mikroskopis) hanya dapat dikerjakan pada bahan yang diambil dari lesi lues (ulcus durum,condylomata lata,dan reseola) yang seringkali hanya muncul dalam waktu yang relative singkat dan sering member hasil yang negative semu.
Suatu infeksi dengan suatu kuman,umumnya akan membangkitkan pembentukan antibody pada tubuh penderita.Demikian juga halnya pada infeksi dengan T.pallidum . pembentukan antibody pada penderita sifilis baru terjadi setelah agak lama penderita menderita penyakit tersebut,yaitu dimulai pada akhir stadium pertama atau permulaan stadium kedua.
Hal ini terutama disebabkan oleh karena kuman ini diliputi oleh suatu selaput mucoid yang menyebabkan kuman ini menjadi kebal terhadap fagositosis. Baru setelah kuman ini agak lama berada dalam tubuh atau telah menyebar ke kelenjar lemfe regional(akhir stadium pertama), pembentukan antibody humoral yang nyata mulai terjadi.
Dari segi imunoassai ,suatu infeksi dengan T .pallida.yang dikenal sebagai penyebab dari sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibody sebagai berikut :
1.      Antibody nontreponemal atau regain sebagai akibat dari sifilis atau penyakit infeksi yang lain. Antibody ini baru terbentuk setelah penyakit menyebar ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan. Antibody ini memberikan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain seperti misalnya dengan antigen lipoid dari ekstrak otot jantung.
2.      Antibody treponemal yang bereaksi dengan T.pallida. dan closelyrelatedstrains. Dalam golongan antibody ini dapat dibedakan 2 jenis antibody,yaitu:
a.        Group treponemal antibody, yaitu antibody terhadap antigen somatic yang dimiliki oleh semua Treponema.
b.       Antibody treponemal yang spesifik,yaitu antibody terhadap antigen spesifik dari T.Pallidum.

2.2. Rapid Plasma Reagin (RPR)
Tes RPR (Rapid Plasma Reagin) adalah suatu tes untuk mengetahui ada atau tidaknya antibodi terhadap kuman Treponema Pallidum.Tetapi tes ini menggunakan antigen yang non spesifik (dengan kata lain ni, antigen ini dibuat semirip mungkin dengan antigen Treponema).Tapi ada juga pemeriksaan Treponema dengan menggunakan antigen yang  berasal dari kuman Treponema(antigen spesifik),tapi antigen ini haraganya lebih mahal, pemeriksaan ini disebut dengan pemeriksaan TPHA.Kuman Treponema ini menyebabkan penyakit yang disebut Syphilis(Raja Singa).Penyakit Syphilis ini menular, terutama kalau  seorang penderita Syphilis melakukan kontak seksual dengan orang lain,pasti orang ini akan tertular penyakit ini.
Suspensi antigen dalam uji RPR mengandung artikel arang yang memungkinkan terjadinya flokulasi yang terlihat secara makroskopik. Perbedaan utama antar uji RPR dengan uji VDRL yaitu RPR menggunakkan antigen yang telah di stabilkan, menggunakan kartu dan bukan piringan , menggunakan serum selain juga plasma, dan serumnya tidak perlu di panaskan. Karena hanya sedikt sampel yang di perlukan, dapat juga di gunakan plasma atau serum daridarah kapiler. Uji RPR tidak dapat di gunakan untuk mmenguji cairan otak.
Pada uji RPR, antigen sudah siap untuk di pakai segera. Antigen tidak perlu di buat atau di encerkan sebelumnya. Reagen antigen yang belum di buka mempunyai masa simpan satu tahun; di anjurkan untuk menyimpannya di lemari pendingin. Begitu di buka, reagen antigen mempertahankan reaktivitasnya selam 3 bulan jka di simpan dalam lemari pendingin dalam dispenser plastiknya. Uji RPR sedikit lebih sensitiv daripada VDRL dan lebih mudah serta cepat pengerjaannya. Reaksi positif palsu terjadi sedikit lebih sering pada uji RPR dibanding uji VDRL. Beberapa perangkat komersial memerlukan pemusing ,mekanik untuk mencampur reagen, sedangkan perangkat lainnya dapat di putar secara manual.

2.3. Uji RPR (Rapid Plasma Reagin)
a.       Pra Analitik
Judul : pemeriksaan RPR (Rapid Plasma Reagin)
Tujuan :Mengetahui adanya antibody non Treponema (reagin) dalam serum sampel.
Metode : semikuantitatif
Prinsip : Adanya antibody Reagin (antibody non troponema)dalam serum penderita akan bereaksi dengan antigen lipoid terdiri dari mikro partikel charcoal (carbon) membentuk presipitasi.

Alat dan Bahan :
a.                   Serum sampel
b.                  Larutan Saline (0,85%)
c.                   Rotaror
d.                  Slide putih dengan 7 lingkaran (pakai 2 slide putih)
e.                   Klinipet 50ul
f.                   Tips kuning
b.      Analitik
Prosedur kerja
·         Uji RPR Kualitatif
1.      Kelluarkan perangkat reagen dari lemari pendingin dan biarkan reagen menghangat sampai mencapi suhu ruangan.
2.      Kembalikan serum kontrol ke kondisi semula dengan menambahkan air suling sesuai volume anjuran.
3.      Setiap sumur pada kartu RPR di beri label menggunakan nomor laboratorium sampel yang akan di uji, termasuk serum untuk serum kontrol positif, positif lemah dan negatif.
4.      Gunakan penetes sekali pakai untuk menambahkan 50ul serum atau plasma yang tidak di panaskan ke sumur yang bersesuaian. Gunakan penetes baru untuk tiap sampel.
5.      Kocok suspensi antigen perlaha-lahan
6.      Dan tambahkan satu tetes yang jatuh bebas ke tiap sumur dengan menggunakan jarum penetes antigen yang telahdisediakan. Campurlah suspensi antigen dan serum dengan hati-hati. Gunakan pengaduk baru untuk tiap sampel. Lebarkan sampai menutupi area sumur.
7.      Tempatkan kartu pada pemusing mekanik dengan humidity cover terpasangdan putar selama 8 menit. Jika tidak tersedia pemusing mekanik. Putar kartu dengan tangan dengan gerakan memutar konstan selama 2 menit, kemudian letakan dalam cawan yang lembab yang mengandung tisu atau kertas saring basah selama 6 menit. Angkat kartu dan putar sebentar untuk mendapatkan pembacaan akhir. Hati-hati jangan sampai terjadi kontaminasi silang antar sampel.
8.      Catat hasil uji :
·         Gumpalan flokulasi kecil sampai besar : reaktif
·         Kekeruhan suspensi partikelyang merata : non-reaktif
9.      Siapkan pengenceran serial bagi serum yang reaktif untuk memperkirakan titer antibodi


·         Uji RPR semi Kuantitatif
1.      Kelurkan perangkat reagen dari lemari pendingin dan biarkan reagen menghangat sampai mencapai suhu ruangan.
2.      Beri label sebaris kartu RPR yang terdiri atas 5 sumur dengan nomor laboratorium sampel yang akan di uji.
3.      Gunakan penetes sekali pakai untuk menambahkan satu tetes larutan saline(0,85%) ke tiap sumur. Jangan di lebarkan.
4.      Gunakan penetes baru untuk menambahkan satu tetes sampel serum ke sumu pertama. Campur dengan cara menarik dan menekan penetes 5-6 kali (hindari terbentuknya gelembung).
5.      Pindahkan 50ul sampel yang telah tercampur (pengenceran 1:2) ke sumur berikutnya. Campur. Ulangi prosedur tersebut sampai sumur ke 5(pengenceran 1:32). Buang 50ul dari pengenceran terakhir.
6.      Lebarkan sampel yang telah di encerkan ke seluruh area sumur ujidi mulai dari pengenceran yang terbesar. Gunakan pengaduk baru untuk tiap sampel.
7.      Kocok suspensi antigen dengan perlahan-lahan dan tambahkan satu tetes yang jatuh bebas ke tiap sumur dengan menggunakanjarun penetes antigen yang telah di sediakan . campurlah suspensi antigen dan serum dengan hati-hati. Gunakan pengaduk baru untuk tiap sampel. Lebarkan sampai menutupi area sumur.
8.      Tempatkan kartu pada pemusing mekanik di bawah humidity cover dan putar selama 8 menit. Jika tidak tersidia pemusing mekanik, putar kartu dengan tangan dengan geraka memutar yang konstan selama 2 menit, kemudian letakkan dalam cawan yang lembab yang mengandung tisu atau kertas saring basah selama 6 menit. Angkat kartu dan putar sebentar untuk mendapatkan pembacaan akhir. Hati-hati jangan sampai terjadi kontaminasi silang antara sampel.
9.      Angkat kartu dari pemusing dan periksalah secara makroskopik di bawah cahaya yang cukup. Pengenceran tertinggi yang mengandung aglutinasi makroskopik adalah titer sampel tersebut.
10.  Jika sampel positif pada pengenceran 1:32, seri pegenceran harus di perluas. Buat pengeceran 1:16 dalam larutan saline (0,85%) dan lakukan pengenceran serial seperti yang di jabarkan di atas.

c.       Pasca Analitik
Interpretasi Hasil
Reaktif (positif +) jika terbentuk agregat besar ditengah dan dipinggir lingkaran.
Weak (positif ± lemah)jika agregatnya halus pada pinggir lingkaran
Non reaktif(negative -)jika tidak terbentuk agregat

Penulisan hasil
Amati lingkaran yang terjadi aglutinasi dengan memperhatikan titernya:
Lingkaran
Titer
1
½
2
¼
3
1/8
4
1/16
5
1/32
6
1/64
7
1/128

Tulis hasil dengan menentukan lingkaran paling akhir yang menunjukkan adanya   aglutinasi.

BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Tes RPR (Rapid Plasma Reagin) adalah suatu tes untuk mengetahui ada atau tidaknya antibodi terhadap kuman Treponema Pallidum. Tetapi tes ini menggunakan antigen yang non spesifik (dengan kata lain ni, antigen ini dibuat semirip mungkin dengan antigen Treponema). Tapi ada juga pemeriksaan Treponema dengan menggunakan antigen yang  berasal dari kuman Treponema(antigen spesifik),tapi antigen ini haraganya lebih mahal, pemeriksaan ini disebut dengan pemeriksaan TPHA.Kuman Treponema ini menyebabkan penyakit yang disebut Syphilis(Raja Singa).Penyakit Syphilis ini menular, terutama kalau  seorang penderita Syphilis melakukan kontak seksual dengan orang lain,pasti orang ini akan tertular penyakit ini.















DAFTAR PUSTAKA

https://ainyyayyna.wordpress.com/2013/06/27/serologi/ , di akses tanggal 10 desember 2014